belakangan ini saya membaca buku berjudul “Umar bin Al Khathab – the Conqueror”. Buku ini ditulis oleh Abdurrahman Asy Sarqawi yang mengklaim bahwa dia merupakan penulis sejarah dengan gaya novel. Sayangnya, berdasarkan cara menulis dalam buku ini, menurut saya klaim tersebut yang terlalu berlebihan.
kyaaaaaaaaaa.. mari kita lupakan sejenak pendapat saya dan kita intip isi bukunya ini pada halaman 57 – 58, yang isinya:
Pernah suatu ketika, Abu Bakar melakukan kesalahan terhadap Umar, Umar pun marah dan berdiri hendak pergi. Namun, Abu Bakar menarik ujung pakaiannya seraya minta maaf, “Maafkanlah kesalahanku Umar … maafkanlah aku … dan semoga Allah mengampuni dosa-dosamu.” Umar masuk rumahnya dan menutup pintu, sedangkan Abu Bakar dibiarkan di luar dan tidak diajak bicara.
Selang beberapa lama, sampailah berita ini kepada Rasulullah saw. Beliau tidak terima Abu Bakar diperlakukan seperti itu. Ketika datang waktu shalat zhuhur, Umar mendatangi Rasulullah saw. dan duduk dihadapannya, tetapi Rasulullah saw. memalingkan wajahnya dari Umar. Umar ikut bergeser ke sebelah kanan agar bisa berhadapan dengan Rasulullah saw., tetapi lagi-lagi manusia mulia ini memalingkan wajahnya.
Ketika Umar merasa ada yang tidak biasa dengan sikap Rasulullah saw., dia menjadi gemetar dan menangis kemudian bertanya bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, aku lihat engkau berpaling dariku, padahal dari dulu engkau tidak pernah melakukan hal ini. Mungkin ada perkataan atau perbuatanku yang tidak berkenan di hatimu sehingga itu membuatmu marah kepadaku, sungguh tidak akan beruntung aku hidup di dunia jika sampai menyakiti engkau wahai Rasulullah!”
Rasulullah saw. menanggapi Umar, “Apakah engkau mengatakan sesuatu kepada Abu Bakar kemudian Abu Bakar meminta maaf tapi engkau tidak mengubrisnya?”
Setelah berkata demikian, Rasulullah saw. berdiri dan menghadap sahabat-sahabatnya yang lain, “Ketahuilah oleh kalian semua, ketika pertama kali aku diutus oleh Allah kepada kalian, kalian mengatakan, ‘Engkau pembohong’ tapi sahabatku ini (Abu Bakar maksudnya) mengatakan, ‘Engkau benar’. Apakah kalian akan meninggalkan dan membiarkan sahabatku ini?” Rasulullah mengatakan hal ini sampai tiga kali.
Umar bin Al Khathab pun berdiri sambil berkata, “Wahai Rasulullah, aku rela Allah sebagai Tuhan, aku rela Islam sebagai agama, dan aku rela Muhammad sebagai utusan Allah.”
Abu Bakar pun berdiri dan mengatakan, “Sya yang salah, wahai Rasulullah, sayalah yang memulai masalah itu.”
Umar mendekati Abu Bakar dan meminta maaf, “Maafkanlah aku … semoga Allah mengampunimu.”
Abu Bakar menjawab, “Semoga Allah mengampunimu.” Akhirnya, kemarahan Rasulullah saw. pun reda.
Mari kita abaikan fakta bahwa ada beberapa tanda baca yang salah gaya menulis dari sang penulis. Mari kita lihat hal yang jauh lebih menarik perhatian saya
- Rasulullah tidak suka kepada orang muslim mengabaikan ucapan maaf dari saudaranya (saudara seiman).
- Permintaan maaf dari sahabat-sahabat Rasul selalu diikuti dengan “Semoga Allah mengampuni mu”. Memang pada waktu itu para sahabat sangat takut terhadap dosa sekecil apapun itu. Tapi, kalau dilihat dari percakapan dan gayanya. Hal tersebut berarti, baik yang berbuat salah maupun korban dari perbuatan itu memiliki tendensi untuk memperoleh dosa. Saya sejujurnya sangat terpukau ^_^
- Saya tidak mengerti arti dari ucapan Rasulullah ketika beliau marah. Ada yang bisa menjelaskan?
- Mengapa ucapan tersebut sampai di ulang tiga kali pun belum benar-benar bisa saya tangkap maksudnya. Asumsi saya karena apa yang diucapkan itu penting, makanya kalimat tersebut diulang lagi. Selain itu, ada kemungkinan beberapa sahabat tidak mendengar dengan jelas apa yang Rasul katakan. Selain itu, masih belum bisa dimengerti.
Tulisan ini dibuat karena ada kesan mendalam ketika membaca dan beberapa hal yang bersifat pribadi mengenai urusan maaf-memaafkan.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan ada yang menjawab apa yang saya tidak mengerti ^_^

bagus juga kisahnya